Kamis, 16 April 2009

DAULAH BANI ABBASIYAH (750 – 1258)

I. PENDAHULUAN

Nama dinasti Abbasiyah diambil dari nama seorang dari paman nabi SAW yang bernama al-Abbas ibn Abd al-Muthallib ibn Hasyim. Ia seorang pribadi yang tangguh dan memegang peranan penting dalam berdirinya Abbasiyah, sekaligus menjadi kholifah pertama pada dinasti ini.

Meskipun pada awal berdirinya dinasti ini tampak jelas adanya berbagai pembantaian yang mana guna memperkokoh dan menyetabilkan pemerintahan, masa-masa keemasan dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya muncul berbagai aliran dan madhab dan lain sebagainya juga mendominasi dalam masa daulah ini. Meskipun pada akkhirnya mengalami masa kehancuran juga seperti pada masa Bani Umayah.

II. PEMBAHASAN

A. Berdirinya Dinasti Abasiyah

Ketika kekholifahan dipegang oleh Umar ibn abd al Aziz, rival-rival politiknya mulai menyusun kekuatan termasuk daei golongan Abbas. Tetapi ia tidak menyebitkan diri sebagai keluasrga Abbas, namun menggunakan Jargon dan symbol Bani Hasyim. Puncaknya , dalam peperangan di Dzab II gerakan Abbasiyah mencapi hasil dengan mengalahkan kholifah Marwan II. Dan al-Abbas (al-Saffah) mendeklarasikan dirinya sebagai kholifah pertama. Usahanya dalam menyetabilkan pemerintahan adalah dengan membasmi rival-rivalnya dan membunuh tokoh-tokoh Umayah. Sebelum wafat ia mengangkat saudaranya, Abu JA’far (al-Manshur) sebagai penggantinya.[1]

Pada masa al-Saffah, pusat pemerintahan berada di anmbar dengan istana negaranya al-Hsyimiyah. Setelah al-Manshur menjadi kholifah, ibu kota dipindah ke Baghdad dengan nama Da al-Salam agar lebih aman. Beliau dan saudaranya, al-Saffah dikenal sebagai pembunuh masal. Bahkan Abu Muslim al-Khurasani sendiri dibunuh atas perintah al-Manshur karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya, dihukum mati pada tahun 755 M.[2] Pada masanya dalam bidang politik, negara cukup setabil dan maju, setelah ia memadamkan api pemberontakan termasuk gerakan Ustadis di Herat yang menyatakan dirinya sebagai nabi, menguasai Khurasan dan Sizistan yang sangat luas.

Berbagai ekspansi-ekspansi yang dilakukan diantaranya adalah merebut benteng-benteng Asia, Kota Malatia, wilayah Coppacodia, dan Cicillia terus ke Utara melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Setelah Manshur wafat (775M), Mahdi menjadi kholifah, populer bersikap llunak terhadap rival politiknya, lebih dermawan, dan lebih berperan dalam pembelaan Islam. Periodenya identik dengan negra yg aman dan kekayaan negara bertambah. Bahakan kelompok mawali (non Islam) yang semula dari budak selanjutnya telah dimerdekan.

Sebelum wafat, Mahdi menunjuk dua putranya sebagai pewaris kerajaan, Hadi, dan Harun. Ketika kepepimpinan dipegang Hadi, praktik kekhalifahan kembali keras. Ia tidak lagi menghargai mawali yang menjadi tulang punggung saat revolusi dan berdirinnya Abbasiyah. Setelah ia wafat digantikan oleh saudaranya, Harun Ar Rasyid yang mana dibaiat oleh penduduknya menjadi khalifah. Periodenya identik dengan Islam memasuki “The Golden Age of Islam”.[3] Kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, ilmu engetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Dan dari sinilah mulai muncul berbagai madzhab (Imam Abu Hanifah dan Malikiyah) karena pada masa kepemimpinannya mereka sangat dihargai tidak seperti pada masa sebelumnya d imana mereka dipenjara dan diasingkan.

Abu Hanifah ialah seorang ahli di bidang hokum. Meski ia tidak terlibat langsung dalam pembuatan keputusan-keputusan paradilan bahkan ia sendiri tidak menulis karya-karya mengenai hokum. Tetapi ajarannya dilestarikan oleh para pengikutnya terutama Abu Yusuf dan Asy Syaibani. Karena kecakapan intelektualnya dan pendapat-pendapatnya yang masuk akal, ia memperoleh perhatian istana khalifah dan ditunjuk sebagai qadhi di Baghdad. Bahkan Harun memberikan gelar kepadanya “qadhil qudat” (hakim agung). Seperti Abu Hanifah, Imam Malik juga seorang ahli hukum dan mendapat perlakuan dengan hormat oleh khalifah Al Mahdi dan Harun. Bedanya, ia seorang fuqaha yang bergerak di Madinah, sedangkan Hanifah di Kufah dan Baghdad. Karya utama yang dihasilkan oleh Imam Malik adalah Al Muwatta’.[4]

Setelah Harun wafat (809 M) sesuai wasiatnya, Amin diangkat menjadi khalifah sedangkan Ma’mun sebagai penguasa di Khurasan yang mengakui kedaulatan Amin sebagi khalifah yang sah. Awalnya merka rukun, tetapi akhirnya menjadi konflik dan perang saudara antara Amin dan Ma’mun dan dimenangkan oleh Ma’mun. dari sinilah terdapat perubahan besar atau era baru dalam sejarah. Khalifah baru tidak seperti pendhulunya yang suka berfoya-foya, hidup mewah, pemalas. Ia sangat mencintai ilmu, ilmuwan dan kemajuannya seperti ayahnya, Harun Al Rasyid. Dan ia menyerahkan tugas negara kepada wazir dan fadhal, sedang ia pergi ke Merv dan di sana ia tenggelam dalam keasikan ilmu pengetahuan dengan para cendekiawan dan filosof.

Akan tetapi mereka dalam menjalankan kenegaraan, tidak seperti yang diharapkan oleh Ma’mun. Kemewahan, hidup foya-foya, suka wanita, kekerasan, penyiksaan menjadi corak kepemimpinannya. Bahkan fadhal muali menyiksa para pengikut Imam Ali Reza (menantu Ma’mun). mereka dibunuh dan ada yang dipenjarakan. Penyiksaan dan kelaliman fadhan tidak bertahan lama, beberapa orang pengikutnya dari Persia marah dan akhirnya membunuhnya. Tahun berikutnya, Ma’mun kembali ke Baghdad dan menguasai politik.[5] Salah satu karya besarnya adalah pembangunan Bait Al Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagi perguruan tinggi dan perpustakaan yang besar.[6] Ia juga meresmikan Mu’tazilah sebagai faham.

Abu Ishaq Muhammad (Al Mu’tasim bi Allah), khalifah berikutnya, memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan,. Keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Umayah, Dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan system ketentaraan. Praktek orang muslim mengikuti perang sudah berhenti. Tentara dibina secara khusus menjadai prajurit-prajurit professional.[7]

Di sisi lain dalam bidang ilmu pengetahuan, tidak lagi menjadi sesuatu yang menonjol. Setelah Al Ma’mun wafat, Ahmad ibn Hanbal mendekam dipenjara karena tidak mengakui Mu’tasim sebagai khalifah, di disiksa dan kemudian dilepaskan. Mulai saat itu dan sampai berakhirnya pemerintahan Mu’tasim, beliau beliau tidak memberikan kuliah, kadang-kadang karena dilarang dan kadang-kdang karena dianggapnya tidak aman.[8]

Pada pemerintahan harun ibn Mu’tasim (Wathiq bi Allah), mulai muncul Amir Al Imarah. Jumalah mereka makin lama makin bertambah, menyebabkan tahun-tahun ke depan sejarak Abbasiyah identik dengan sejarah tentara Turki. Sampai pada khalifah Mutawakkil yang merupakan awal kemunduran politik Bani Abbas. Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat. Setelah Mutawakkil wafat, Turkilah yang memilih dan mengangkat khalifah dan terus sampai jajaran-jajaran khalifah di bawahnya. Dengan demikian kekuasaan tidak lagi berada di tangan Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah.

B. Berbagai Peristiwa yang Terjadi pada Masa Dinasti Abbasiyah

1. Dinasti Buwayhiah (945-1055 M)

Ketika rod pemerintahan dikuasai oleh bangsa Turki, karena tidak tahan perbuatan-perbuatan kasar terhadap penduduk Baghdad, maka khalifah Al Mustakfi bi Allah (944-946 M) terpaksa mengundang dan meminta bantuan kepada pemimpin Buwayhia, Ahmad ibn Abu Shuza’ yang beraliran Syi’ah. Ahmad menyerang Baghdad (945 M) dan berhasil mengusir tentara Turki. Hal ini merupakan peluang bagi Ahmad yang menjadikan khalifah lemah dan boneknya. Atas namanya, dinasti ini di sebut Dinasti Buwayhia.[9]

Pendiri Buwayhia dengan mengambil gelar Mu’iz al daulah dari Mustakfi bi Allah, ia memerintah sebagai wazir utama (Amir Al Umara’) dengan memakai gelar sultan. Setelah Mu’iz, putranya Iz Al daulah berkuasa (967 M). sejak saat itu, kekuasaan mutlak ada di tangan para wazir atau sultan.

Pada masa Azd Al Daulah, ia memakai gelar sultan dan Shahanshah (penguasa atas penguasa). Pada periode ini, wilayah kekuasaannya sama luasnya semasa khalifah Harun. Kemajuan dalam berbagai bidang mulai sejak periode mu’iz nama pada periode Azd Daulah-lah berbagai bidang terutama sains dan kegiatan ilmiah maju pesat yang mencapi puncaknya. Daerah kekeuasaannyaa meluas sampai Shiraj dan dari Laut Kaspia sampai Teluk Persia. Dinasti ini berdiri kokoh sampai pada masa Sharif Al daulah (983-989 M). sesudah itu, Buhaywia menjadi lemah menuju titik kehancuran, begitu juga Abbasiyah terbelah-belah. Dengan kelemahan mereka mengundang orang Saljuq menguasai politik Baghdad pada tahun 1055 M.

2. Dinasti Saljuq

Tughril beg, cicit dari pendiri dinasti ini, bernama Saljuq mengaalahkan kekuatan Turki cabang lain. Pada saat yang sama, para khalifah Abbasiyah sudah gelisah atas perlakuan Amir Al Umara (Buwayhia). Dalam khutbah Jum’at dibacakan nama khalifah Fatimiah dan Al Muntashir bi Allah (1035-1094 M), menggantikan nama khalifah Abbasiyah tersebut. Dengan permintaan bantuan dari khalifah Qa’im kepada Thughil, maka ia segera masuk Baghdad dan membebaskan khalifah, maka dengan suka cita khalifah memberikan gelar “Sultan Al Masyariq wa Al Maghrib” (penguasa Timur dan Barat) kepadanya.[10] Dari sinilah sultan-sultan mulai menguasai politik Abbasiyah.

Semasa Sultan III, Malik Shah (1073-1092 M) wilayah kekuasaan Saljuq, meliput dari Kashmir di timur dan di Barat sampai Laut tengah, sedang di Utara dari Georgia sampai ke Selatan Yaman. Inilah masa keemasan, di mana berdiri Madrasah Nizamiah yang kemudian menjadi universitas Islam ternama di dunia. Setelah Malik Shah wafat, khalifah Muqtadir (1135-1160 M) terjadi ketidak-cocokan dan konflik berkepanjangan antara amir Al Umara’, Mas’ud dan Mazar. Dan inilah menjadi kesempatan bagi khalifah untuk mengusir semua petinggi Saljuq dari Baghdad setelah Mas’ud wafat.

Dengan lemahnya para pengganti Saljuq, akhirnya wilayah Saljuq terbagi memjadi beberapa kerajaan. Di samping itu, Perang Salib juga membawa kekhalifahan Abbasiyah sudah diambang kehancuran. Saat-saat itulah muncul kekuatan-kekuatan raksasa baru, bangsa Mongol yang mengakhiri kekuasaan Abbasiah di Baghdad.

3. Perang Salib

Pada masa Turki Saljuq, ketika dipimpin oleh Alp Arselan dan mengadakan ekspansi yang terkenal dengan nama peristiwa Manzikart (1071 M0, tentara yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit mampu mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al Akraj, Al Hajr, Perancis dan Rumania. Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian itu bertambah setelah Dinasti Saljuq dapat merebut bait Al Maqdis dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah.

Penguasa Saljuq menetapkan peraturan-peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Namun peraturan ini memberatkan mereka. Untuk memperoleh kembali keleluasaan, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci.[11]

C. Sebab -Sebab Hancurnya Dinasti Abbasiyah

Adapun factor-faktor penyebab kehancuran Abbasiyah, diantaranya sebagai berikut:

1. Faktor intern

Persaingan dan perpecahan di kubu pemerintahan sendiri sering terjadi, mulai pada masa khalifah Al Hadi dan juga khalifah-khalifah setelahnya menjadi pondasi utama lemahnya di sektor intern. Ketidakmampuan atau lemahnya para penguasa memimpin negeri memaksa untuk mencari bantuan dari luar (contoh: Buwayhia, turki Saljuq dan sebagainya), mengatur roda pemerintahan adalah kesalahan besar dan menjadi awal keroposnya system kekhalifahan Abbasiyah.

2. Faktor ekstern

Perlakuan buruk terhadap kaun Kristen menjadikan timbulnya sifat benci, dendam kepada masyarakat Muslim oleh kaum Kristen. Yang akhirnya dituntaskan dengan munculnya peristiwa besar yakni Perang Salib. Di sisi lain, serangan tentara Mongol mengepung kota Baghdad selama 2 bulan oleh Hulagu khan adalah akhir riwayat Abbasiyah setelah pembantaian yang menelan korban 800.000 orang dan dibunuhnya khalifah mereka.

III. KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa kerajaan Abbasiyah didirikan oleh al-abbas paman nabi. Masa – masa kejayaannya hanya sampai pada khalifah Mutawakkil, hal ini dikarenakan setelah masa khalifah tersebut Abbasiyah sudah bercampur dengan daulah-daulah kecil lainnya. Meski begitu, berbagai kemajuan telah berhasil diciptakannya khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan juga penyebaran Islam.

IV. PENUTUP

Demikianlah makalah yang kami susun, apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan maupun penjelasannya kami mohon maaf serta mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007)

Badri Yatim, Sejarhg Peradaban Islamii: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003)

Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Cet. I, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana yogya, 1990)



[1] Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm. 144.

[2] Badri Yatim, Sejarhg Peradaban Islamii: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 50.

[3] Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Op. cit., hlm. 149.

[4] Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Cet. I, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana yogya, 1990), hlm. 126-127.

[5] Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Op. cit., hlm. 153.

[6] Badri Yatim, Op. Cit., hlm. 53.

[7] Ibid.

[8] Montgomery Watt, Op. Cit., hlm. 133.

[9] Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Op. cit., hlm. 157.

[10] Ibid., hlm. 158.

[11] Badri yatim, Op. Cit., hlm. 76-77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar